AKTUALISASI DIRI MENURUT PERSPEKTIF PSIKOLOGI DAN TASAWUF

AKTUALISASI DIRI MENURUT PERSPEKTIF PSIKOLOGI DAN TASAWUF

AKTUALISASI DIRI MENURUT PERSPEKTIF PSIKOLOGI DAN TASAWUF

 

AKTUALISASI DIRI MENURUT PERSPEKTIF PSIKOLOGI DAN TASAWUF

 

Pengertian Aktualisasi Diri

Dalam kamus besar bahasa Indonesia, kata aktualisasi berasal dari kata dasar aktual yang artinya benar-benar ada atau sesungguhnya sehingga kata aktualisasi artinya membuat sestatu menjadi benar-benar ada, sedangkan kata diri artinya orang atau seseorang. Berdasarkan dua pengertian tersebut, dapat disimpulkan bahwa aktualisasi diri adalah upaya untuk membuat seseorang benar-benar ada atau dengan kata lain keberadaannya diakui.
Dapat dikatakan bahwa aktualisasi diri adalah sebuah keadaan dimana seorang individu telah menjadi dirinya sendiri, ia mengerjakan sesuatu yang disukainya, dan ia mengerjakan dengan gembira, bahagia dan tanpa beban. Aktualisasi diri juga dapat diartikan sebagaimanakita mengembangkan kekuatan diri kita sendiri.

Pandangan Psikologi Humanistik Tentang Aktualisasi Diri

Psikologi adalah disiplin ilmu yang mempelajari perilaku manusia secara umum dapat dilihat dari segi mental, baik yang bersifat perasaan ataupun bukan, dengan tujuan untuk mencapai kaidah kaidah yang dapat dipakai guna memahami berbagai motif perilaku, mengenali dan memastikan (gejala-gejala kejiwaan yang tampak dalam perilaku).
Dalam percakapan sehari hari, banyak yang mengaitkan tasawuf dengan unsur kejiwaan dalam diri manusia. Dan hal ini cukup beralasan mengingat substansi pembahasannya, yaitu berkisar pada jiwa manusia. Dari sinilah tasawuf kelihatan identik dengan unsur kejiwaan. Mengingat adanya hubungan relevansi yang sangat erat antara spiritualitas tasawuf dan ilmu jiwa, terutama ilmu kesehatan mental, kajian tasawuf tidak terlepas dari kajian tentang kejiwaan manusia itu sendiri. Dalam pembahasan tasawuf dibicarakan tentang hubungan jiwa dengan badan. Tujuan yang dikehendaki dari uraian tentang hbungan jiwa dan badan dalam tasawuf adalah terciptanya keserasian antara keduanya. Pembahasan ini dikonsepsikan oleh para sufi dalam rangka melihat sejauh mana hubungan perilaku yang dipraktekkan manusia dengan dorongan yang dimunculkan jiwanya sehingga perbuatan itu terjadi. Dimana semua yang dimunculkan melalui jiwanya tersebut baik sikap dan kepribadian seseorang tidak terlepas dari keudua unsur ini yakni tasawuf dan psikologi.
Tokoh terkenal dalam psikologi humanistik salah satunya adalah abraham maslow, ia pernah berpendapat mengenai proses aktualisasi diri. Ia berpendapat bahwa proses aktualisasi diri adalah perkembangan atau penemuan jati diri dan mekarnya potensi yang ada atau terpendam.
Teori kebutuhan maslow, termasuk konsep aktualisasi diri yang ia definisikan sebagai keinginan untuk mewujudkan kemampuan diri atau keinginan untuk menjadi apapun yang seorang mampu untuk mencapainya. Aktualisasi diri ditandai denganpenerimaan diri dan orang lain, spontanitas, ketebukaan hubungan dengann orang lain yang relatif dekat dan demokratis, kreativitas, humoris dan mandiri. Maslow menempatkan posisi aktualisasi diri ini pada puncak hierarki kebutuhannya, hal ini berarti bahwa pencapaian dari kebutuhan yang paling penting ini bergantung pada pemenuhan seluruh kebutuhan lainnya. Kesukaran untuk memenuhi kebutuhan ini diakui oleh maslow, yang mempekirakan bahwa lebih sedikit dari satu persen orang dewasa yang mencapai aktualisasi diri.
Abraham maslow dalam bukunya yang berjudul heirarchy of needs menggunakan istilah aktualisasi diri (self actualization) sebagia kebutuhan dan pencapaian tertinggi seorang manusia. Maslow nenemukan bahwa, tanpa memandang suku atau asal-usul seseorang, setiap orang mengalami tahapan-tahapan peningkatan kebutuhan atau pencapaian dalam hidupnya.
Berikut ini adalah kebutuhan menurut maslow yang digambarkan dalam sebuah segi tiga :
  1. Kebutuhan fisiologi, meliputi kebutuhan akan pangan, pakaian, tempat tinggal maupun kebutuhan biologis.
  2. Kebutuhan keamanan dan keselamatan, meliputi kebutuhan akan keselamatan kerja, kemerdekaan dari rasa takut atau tekanan, keamanan dari kejadian atau lingkungan yang mengancan.
  3. Kebutuhan rasa saling memiliki, sosial dan kasih sayang, meliputi kebutuhan akan persahabatan, berkeluarga, berkelompok, berinteraksi dan kasih sayang.
  4. Kebutuhan akan penghargaan, meliputi kebutuhan akan harga diri,dan penghargaan dari pihak lain
  5. Kebutuhan aktualisasi diri, meliputi memaksimalkan penggunaan dan potensi diri.
Terlihat bahwa kebutuhan manusiaberdasarkan pada urutan prioritasdimulai dari kebutuhan dasar yang banyak berkaitan dengan unsur biologis, dilanjutkan dengan kebutuhan yang lebih tinggi yang banyak berkaitan dengan unsur kejiwaan, yang paling tinggi yaitu aktualisasi diri tersebutlah yang dinamakan unsur spiritual.
Perlu dipahami bahwa aktualisasi diri erat kaitannya dengan kesadaran. Kesadaran untuk mengenali diri, memperbaiki diri, dan keinginan untuk merubah kondisi dan hidup ke arah yang lebih baik dari hari ke hari.

Pandangan Islam Khususnya Tasawuf Tentang Aktualisasi Diri

Sesunguhnya tasawuf dalam Islam merupakan pengembangan metode mendekatkan diri dengan Allah, oleh karena itu ilmu tasawuf berkembang terus menerus seiring perkembangan itu pula.sejak pertama kali diajarkan ilmu tasawuf dan diamalkan oleh para sufi sejak itu pula masalah-masalah itu timbul atau (controversial) seputar ajaran yang dianutnya.
Sebagai suatu kenyataan manusia ada, karena itu ada eksistensi manusiawi. Oleh karena itulah pembinaan manusia seutuhnya tidak bisa mengenyampingkan faktor agama, sebab bagaimanapun agama merupakan bangunan bawah dari moral suatu bangsa. Agama adalah sumber dari sumber nilai dan norma yang memberikan petunjuk, mengilhami dan mengikat masyarakat yang bermoral yang akan menjadi solidaritas dan karena agamalah satu satunya yang memilki dimensi kedalaman kehidupan manusia.

Pengertian Tasawuf

Tasawuf adalah disiplin ilmu yang tumbuh dari pengalaman spiritualitas yang mengacu pada moralitas yang bersumber dari nilai islam, dengan pengertian bahwa pada prinsipnya tasawuf bermakna moral dan semangat islam, karena seluruh agama islam dari berbagai aspeknya adalah prinsip moral. Tasawuf membina manusia agar mempunyai mental utuh dan tangguh, sebab didalam ajarannya yang menjadi sasaran utamanya adalah manusia dengan segala tingkah lakunya. Tasawuf mengajarkan bagaimana rekayasa agar manusia dapat menjadi insan yang berbudi luhur, baik sebagai makhluk sosial maupun sebagai hamba dalam hubungannya dengan Khaliq pencipta alam semesta.
Dari pengertian Tasawuf yang telah dikemukakan di atas dapat dipahami bahwa kaum sufi memandang diri mereka sebagai Muslim yang memperhatikan secara sungguh-sungguh seruan Allah untuk menyadari kehadiran-Nya, baik di dunia (alam) ini maupun di dalam diri mereka. Mereka cenderung menekankan hal-hal yang batiniah di atas yang lahiriah, kontemplasi di atas tindakan, perkembangan spiritual di atas aturan hukum, dan pembinaan jiwa di atas interaksi sosial. Pada tingkat teologis, sufi berbicara masalah “ampunan, keanggunan, dan keindahan” Tuhan jauh melebihi perbincangan mereka mengenai “kemurkaan, kekerasan, dan kemegahan-Nya” yang memainkan peran penting dalam fiqh (hukum Islam) maupun kalam (teologi dogmatis). Tasawuf tidak saja dikaitkan dengan institusi-institusi dan individu-individu tertentu, tetapi juga dengan kepustakaan yang berlimpah dan kaya, terutama syair.
Dari segi kesejarahan, pemikiran tentang Tasawuf dapat dikelompokkan pada dua tingkat. Tingkat pertama, Tasawuf merupakan sesuatu yang tidak tampak, yang memberi semangat pada kehidupan komunitas Muslim. Pada tingkat kedua, kehadiran Tasawuf dikenal melalui karakteritik-karakteristik teramati tertentu yang melekat pada rakyat dan masyarakat maupun bentuk-bentuk kelembagaan yang spesifik. Para penulis sufi yang mengkaji Tasawuf pada tingkat kedua bermaksud menggambarkan bagaimana figur-figur Muslim besar mencapai tujuan kehidupan manusia, yakni kedekatan kepada Tuhan. Nama-nama sufi besar antara lain Ibn ‘Arabi, Jalaluddin ar-Ruumi, Rabi’ah al-Adawiyyah, al-Ghazali setelah merasa jenuh dengan Filsafat, dan lain-lain mengemukakan kajian tentang kedekatan dengan Allah melalui berbagai maqaam (stasiun).
Abdul Karim al-Qusyairi, tokoh tasawuf Sunni mengemukakan tiga media dalam diri manusia yang dapat digunakan untuk ma’rifah Allah yaitu qalb (hati/kalbu), ruh (roh), dan sirr. Qalb untuk mengetahui sifat-sifat Tuhan, roh untuk mencintai Tuhan, dan sirr untuk mengenal Tuhan. Sirr inilah yang dapat menerima pancaran cahaya ilahi, ketika ia telah disucikan dari berbagai kotoran. Al-Ghazali m3nggambarkannya sebagai daya yag paling peka dalam diri manusia.(Asep Usman Ismail dlm Ensiklopedi Tematis Dunia Islam, 2002:307-315)
Di samping maqamat terdapat pula ahwal (keadaan) di mana maqam lebih merupakan tempat atau martabat seorang hamba di depan Allah pada saat ia berdiri di hadapan-Nya. Maqam diperoleh dengan latihan (riyadhah) dalam hidup keseharian, sementara ahwal adalah kurnia Allah yang datang secara tiba-tiba. Maqamat merupakan proses pembelajaran untuk smpai kepada tujuan ideal tasawuf. Secara garis besar proses pembelajaran tersebut memiliki tiga tahap. Pertama, takhalli yakni mengosongkan diri dari sifat-sifat keduniawian yang tercela. Kedua, tahalli yaitu mengisi dan menghiasi diri serta membiasakan diri dengan sifat, sikap, dan perbuatan yang baik. Ketiga, tajalli adalah lenyapnya sifat-sifat kemanusiaan yang rendah dan digantikan dengan sifat-sifat ketuhanan.
Baca Juga Artikel Lainnya :