Antisipasi Bangunan Rubuh, Kadisdik Sidak ke SMPN 1 Gempol
Pendidikan

Antisipasi Bangunan Rubuh, Kadisdik Sidak ke SMPN 1 Gempol

Antisipasi Bangunan Rubuh, Kadisdik Sidak ke SMPN 1 Gempol

Antisipasi Bangunan Rubuh, Kadisdik Sidak ke SMPN 1 Gempol
Antisipasi Bangunan Rubuh, Kadisdik Sidak ke SMPN 1 Gempol

Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Kabupaten Cirebon, H. Asdullah Anwar

melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke SMPN 1 Gempol terkait antisipasi bangunan. Hal itu terkait peristiwa ambruknya bangunan kelas di SMPN 2 Plumbon. Agar kejadian tersebut tidak terulang kembali, pihaknya melakukan tinjauan ke beberapa sekolah, salah satunya SMPN 1 Gempol.

Pada kunjungannya tersebut Kadsidik juga memberikan pembinaan kepada para guru dan guru honorer SMPN 1 Gempol.

H. Asdullah Anwar menyampaikan, dirinya ingin mengetahui kondisi bangunan di SMPN 1 Gempol.

“Pertama saya mau lihat kondisi bangunan, jangan sampai terulang lagi kejadian runtuhnya

bangunan sekolah kemarin. Sebetulnya kejadian di Plumbon ini 2017 sudah saya ingatkan kepada kepala sekolahnya untuk dianggarkan. Tahun 2018 hanya dapat satu ruangan. Tahun 2019 mengusulkan lagi, namun tidak dapat dari kementeriannya. 2019 ke 2020 juga dapat mengusulkan lagi,” jelasnya saat mengunjungi SMPN 1 Gempol, Selasa (8/10/19).

Atas kejadian di SMPN 2 Plumbon, dirinya juga tidak menyalahkan anak buahnya. Menurutnya dirinya yang salah dan akan bertanggung jawab.

“Jadi memang anak buah saya juga tidak salah, saya yang salah, padahal saya juga sudah menginstruksikan. Pusat juga disalahkan oleh direktur, kenapa? Karena 39 ribu ruang kelas yang rusak se Indonesia, di kabupaten Cirebon 680 ruang kelas yang rusak, sedangkan anggaran dari DAK kemarin hanya 70 ruang kelas dari APBD 10 berarti 80. Kalau dari jumlah 680 ruang kelas tahun 2109 80, berarti sisanya 600 ruang kelas, yang rusak ringan, sedang, dan berat,” ujarnya.

Ia juga menyampaikan, beberapa faktor yang dapat mengakibatkan runtuhnya bangunan di antaranya kurangnya pengawasan, pembangunanya asal-asalan dan lain-lain.

 

“Faktornya mungkin dulunya mungkin ini dulunya daerah rayap, kurangnya pengawasan

atau pembangunannya asal-asalan. Contoh SMP di Kapetakan itu dibangun sejak tahun 1977 sampai sekarang kusen-kusennya gak pernah diganti, tapi kan tergantung pengawasannya, itu kan berarti sudah 40 tahun lebih. Itu saya wanti-wanti, saya kontrol,” ujarnya.

Terkait kejadian ambruknya bangunan di SMP N 2 Plumbon, ia menyampaikan sebelumnya pihaknya sudah mewanti-wanti kepada para kepala sekolah. “Tolong untuk para kepala sekolah, apabila kelas sudah diprediksi mau ambrug, segera dikosongkan. Sudah ada edaran seperti itu sebelumnya,” terangnya.

Sementara itu, Kepala SMPN 1 Gempol Sri Eka Ningsih mengatakan, pihaknya melakukan pengecekan kondisi ruang kelas di SMP Negeri 1 Gempol.

“Yang pertama melakukan pemindahan, pengecekan kondisi ruang kelas di SMP Negeri 1 Gempol ini seperti apa. Ternyata di sini juga kita banyak ruang kelas yang rusak, ada 3 ruangan yang rusaknya sudah luar biasa. Maka ruangan itu tidak kita gunakan untuk pembelajaran, karena membahayakan siswa. Jadi ruangan itu tidak boleh digunakan untuk belajar. Ada 2 kelas dan 1 perpustakaan. Jadi ini adalah kebijakan kami demi keselamatan anak, jangan sampai yang terjadi di SMP Negeri 2 Plumbon terjadi juga kepada kami,” ungkapnya.

Saat disinggung, terkait terganggu atau tidaknya proses belajar mengajar karena pemindahan ruang kelas, ia mengaku tidak mengganggu proses pembelajaran.

 

Baca Juga :