Bencana Cuaca Iklim

Bencana Cuaca Iklim

Bencana Cuaca Iklim

Bencana Cuaca Iklim
Bencana Cuaca Iklim

BANDUNG-PSTA-LAPAN Bandung- Bencana hidro-meteorologis

berupa cuaca ekstrem seperti hujan lebat yang dapat menimbulkan banjir dan longsor merupakan jenis bencana yang paling sering terjadi di Indonesia berdasarkan data BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana).

Hal ini diungkapkan oleh Kepala Bidang Pemodelan Atmosfer, Didi Satiadi, pada acara Bimtek Cuaca dan Iklim untuk Guru dan Jurnalis di kantor PSTA LAPAN, Bandung.

Cuaca atau iklim ekstrem merupakan istilah bagi kondisi cuaca

atau iklim yang tidak biasa dan sangat jarang terjadi. Disebut ekstrem karena cuaca atau iklim tersebut memiliki intensitas yang sangat tinggi atau sangat rendah. Selain itu, Didi menambahkan, frekuensi kejadian cuaca atau iklim ekstrem sangat jarang atau kurang dari 5 persen terhadap seluruh kejadian cuaca atau iklim yang sebagian besar normal.

Contoh cuaca ekstrem di Indonesia seperti hujan sangat lebat disertai petir dan angin kencang atau disebut badai guruh, hujan lebat yang menimbulkan banjir dan longsor, kering yang memicu kebakaran, dan puting beliung. Sementara iklim ekstrem contohnya banjir berhari-hari bahkan berminggu-minggu di musim hujan, kekeringan parah di musim kemarau yang memicu kebakaran hutan dan lahan.

Mengapa cuaca ekstrem dapat terjadi? Pada dasarnya, menurut Didi

, cuaca di atmosfer merupakan suatu sistem kompleks yang digerakkan secara perlahan-lahan oleh energi matahari. Perilaku cuaca di atmosfer memiliki batas kekritisan tertentu yang dapat diatur oleh sistem cuaca itu sendiri. Meski demikian, pada saat-saat tertentu, terjadi pengumpulan energi yang cukup besar sehingga sistem cuaca tersebut akan melepaskan energi itu di atmosfer berupa kejadian yang ekstrem. Baik cuaca maupun iklim ekstrem dikategorikan sebagai bencana yang menimbulkan dampak kerugian sangat besar yang dapat mencapai miliaran bahkan triliunan rupiah. Hal ini seperti dampak kerugian yang ditimbulkan pada kasus banjir di Jakarta pada 2014 dan 2015. “Oleh karena itu, cuaca dan iklim ekstrem perlu untuk terus kita pelajari agar dapat diantisipasi dan dikelola dampaknya,” jelas Didi.

Bimtek yang diadakan oleh Bidang Pemodelan Atmosfer, PSTA, LAPAN, merupakan salah satu bentuk edukasi mengenai cuaca dan iklim ekstrem kepada masyarakat yang untuk saat ini diwakili oleh kalangan guru dan jurnalis. “Kami berharap, Bimtek ini dapat menumbuhkan kesadaran masyarakat akan pentingnya memahami dan mewaspadai cuaca dan iklim ekstrem. jo

 

Baca Juga :