Beragam Ingkarussunnah Dahulu

Beragam Ingkarussunnah Dahulu

Beragam Ingkarussunnah Dahulu

 

Beragam Ingkarussunnah Dahulu
Beragam Ingkarussunnah Dahulu

Dimuka telah di singgung bahwa memakai al-Qur’an saja dan menolak sunnah suatu hal yang tidak mungkin dan mustahil pula mengaku sebagai muslim yang taat, tetapi mengingkari kehujjahan sunnah. Namun demikian dan sementara orang yang kurang memahami masalah ini. Bahkan pada masa sahabat ada pula orang yang kurang memperhatikan kedudukan sunnah sebagai sumber hokum. Dan tidak mustahil dengan pesatnya zaman bertambah pula jumlah orang-orang yang mencari jawaban masalah-masalah yang mereka hadapi dengan merujuk al-Qur’an saja. Samapai Ayyub al Sakhatiyani (68-131 H) berkata, “Apabila kamu mengajarkan Hadits kepada seseorang kemudian ia berkata” tidak sunnah pakai hadits, ajarilah kami al-Qur’an saja” maka ketahuilah bahwa orang itu sesat dan menyesatkan.”

a. Perkembangan Ingkarussunah

Pada masa sahabat sudah ada orang-orang yang kurang memperhatikan kedudukan sunnah. Namun mereka masih bersifat perorangan, kemudian menjelang akhir abad kedua muncul golongan yang mengingkari sunnah secara umum, disamping ada pula golongan yang mengingkari sunnah yang tidak mutawatir saja.

b. Sikap golongan Khawarij, Mu’tazilah dan Syi’ah terhadap sunnah

– Khoowarij dan Sunnah

Golongan Khowarij memakai sunnah dan mepercayainya sebagai sumber hokum Islam. Hanya saja ada sumber-sumber yang menyebutkan bahwa meraka menolak hadits yang diriwayatkan oleh sejumlah sahabat tertentu, khususnya setalah peristiwa tahkim.

– Mu’tazilah dan Sunnah

Berdasarkan tulisan-tulisan Syafi’i Syekh Al-Khudhori menarik kesimpulan bahwa golongan yang menolak hadits secara keseluruhan adalah mu’tazilah. Prof. Al Siba’i tampaknya juga cenderung kepada pendapat ini.
Al-Siba’i juga menukil pendapat-pendapat al-Amidi, Ibnu Hazm dan Ibnu al-Qayyim ia memberikan komentar bahwa nukilan-nukilan itu salilng bertentangan sehingga tidak dapat ditarik kesimpulan yang pasti. Ia juga mengutip pendapat al-Naddham dari kitab al baina al-firaq karangan al Bahdadi (W. 429 H) yang pada pokoknya al-Naddham mengingkari mutazilah Nabi Muhammad SAW, kehujahan Ijma’ dan qiyas, dan kehujahan hadits-hadits ahad. Disebutkan pula bahwa mayoritas orang-orang Mu’tazilah mengkafirkan al Naddani

– Syi’ah dan Sunnah

Golongan Syi’ah terdiri dari berbagai kelompok masing-masing saling mengkafirkan kelompok Syi’ah yang masih eksis di dunia sekarang ini umumnya kelompok Itsnaasyariyah. Meraka menerima dan memakai hadits nabi. Perbedaanya dengan kita adalah dalam hal cara menerima atau menetapkan hadits itu sendiri, karena menganggap bahwa mayoritas sahabat setelah nabi wafat sudah murtad, keculai tiga sampai sebelas orang saja, maka mereka tidak mau menerima hadits-hadits yang diriwayatkan oleh mayoritas sahabat tadi, mereka hanya menerima hadits-hadits yang diriwayatkan ahlubait (keluarga nabi) saja.

Sumber: https://www.dutadakwah.co.id/kumpulan-kultum-ramadhan/