Uncategorized

Diskriminasi dalam Ruang Publik Kota

Diskriminasi dalam Ruang Publik Kota

Senin, 1 Maret 2010 | Ahmad Arif

Jika ruang publik adalah gambaran dari jiwa warga kota, maka gambaran itu adalah keterasingan dan diskriminasi. Jelajahilah ruang-ruang publik di kota kita dan rasakanlah sekat-sekat yang akan memerangkap kita dalam kelas-kelas sosial. Sekat yang akan mengasingkan diri dengan kemanusiaan kita sendiri.

Mari telusuri keberadaan ruang-ruang publik di kota-kota kita, khususnya di Jakarta. Kita bisa memulai dari ruang publik di sekitar rumah. Kompleks perumahan telah mendesak kampung yang egaliter. Bahkan, kini muncul konsep kluster; perumahan di dalam perumahan. Artinya, penyekatan semakin mengecil.

Bahkan, sekalipun tinggal di dalam kluster, banyak orangtua yang tak mengizinkan anak-anak mereka keluar rumah. Menyebabkan anak menjadi tahanan rumah. Dunia anak dan mungkin juga orangtuanya menjadi hanya sebatas pagar rumah masing-masing. Satu-satunya kesempatan mengenal masyarakat dari kelas sosial berbeda adalah melalui interaksi dengan pembantu di rumahnya. Interaksi yang tak setara karena berdasar logika majikan dan buruh.

Dari ruang rumah yang memenjara, mari kita tengok ke sekolah. Ruang tempat tumbuh anak-anak kita itu jelas semakin elitis dan mengkotak-kotakkan. Munculnya sekolah mahal jelas hanya bisa menampung anak-anak orang berpunya (the have) dan menyisihkan anak-anak miskin (the have not) dalam ruang sekolahnya sendiri; sekolah negeri atau swasta murahan yang—biasanya—tak dikelola dengan baik.

Lalu, mari kita tengok pusat perbelanjaan atau mal yang telah menjadi ruang publik baru bagi masyarakat kota. Datanglah ke mal-mal termewah kota ini. Sebutlah, misalnya, Plaza Indonesia, Senayan City, atau Mal Pondok Indah, maka kita tak akan menemukan manusia dari the have not. Kalaupun ada di sana, mereka menjelma dengan penampilan yang berbeda karena telah memoles diri agar tampak serupa dengan kalangan the have.

”Itu bukan ruang kami. Belum pernah ke Mal Pondok Indah, apalagi ke Plaza apa tadi… Indonesia? Belum tahu di mana tempatnya,” kata Bu Mina (45), pembantu rumah tangga di Ciputat, Tangerang Selatan. Dia mengaku paling banter ke Ramayana di dekat Pasar Ciputat. Kenapa tidak pernah ke mal-mal mewah di sana? ”Itu, mah, untuk orang kaya. Lagi pula untuk apa? Tak ada yang bisa dibeli,” ujar dia. Nah, mal pun jelas mengkotakkan kelas sosial, sebagaimana pasar tradisional yang identik dengan kumuh, jorok, dan tempat belanja untuk kalangan tak berpunya.

Sekarang mari kita turun ke jalanan. Di ruang publik ini, pemisahan kelas semakin kentara, mulai dari kelas pengguna sepeda motor, mobil pribadi—pun dengan berbagai kelas harga dan merek—hingga pengguna bus ataupun kereta. Sedikit anomali adalah munculnya B2W (bike to work), yang menarik kalangan berpunya untuk mengayuh sepeda ke kantor. Namun, kelas sosial tetap saja terlihat, misalnya dengan harga sepeda dan pernak-pernik pelaku B2W yang berbeda dengan penjual sayur bersepeda.

Transportasi umum yang semestinya menjadi ruang berinteraksi semua kelas sosial nyatanya justru menjadi ruang pembeda kelas. Kita mengenal kereta expres eksekutif, yang mengasumsikan penumpangnya para eksekutif dan para miskin silakan keluar. Selain itu ada juga kereta api ekonomi ber-AC (KRL Ciujung, misalnya). Penumpangnya taruhlah untuk kelas menengah. Terakhir kita mengenal kereta ekonomi atau yang biasa dikenal sebagai kereta sayur. Sudah bisa diduga untuk siapa kereta ini diperuntukkan.

Padahal, di negara-negara lain, sebangsa Jerman dan Belanda, misalnya, hanya dikenal satu jenis kereta di kota, satu jenis bus kota atau trem, yang boleh dinaiki dan terjangkau harganya oleh semua kelas.

Di kota-kota kita, bahkan di dalam ruang-ruang yang sedari awal didesain untuk publik pun ternyata tak benar-benar bebas sekat. Tengoklah taman-taman kota yang tak terawat dan tak terjamin keamanannya. Adakah para kalangan berpunya mau berpesiar ke ruang terbuka kota seperti itu? Hampir-hampir warga kota Jakarta tak menemukan ruang terbuka tanpa bea masuk yang nyaman dan aman. Bahkan, beberapa taman kota identik dengan kelas sosial tertentu, misalnya Taman Lawang yang identik dengan kalangan transgender.

Sekarang, mari kita berpesiar ke rumah masa depan. T

https://montir.co.id/super-phantom-cat-apk/