Faham Jabariyah dan Qadariyah
Agama

Faham Jabariyah dan Qadariyah

Faham Jabariyah dan Qadariyah

Faham Jabariyah dan Qadariyah
Faham Jabariyah dan Qadariyah

Jabariyah

berasal dari kata jabaran yang berarti memaksa. Imam Syahrastani menggambarkan arti jabariyah yaitu penolakan atas perbuatan yang hakekatnya berasar dari insan dan menimpakannya kepada Tuhan.
Faham Jabariyah ini dalam perkembangan pemikiran Teologi Islam mirip faham fatalism atau filsafat yang beranggapan secara deternis bahwa insan tidak mempunyai kekuasaan dan kebebasan lantaran segala-galanya sudah ditentukan oleh Tuhan, sehingga mereka tidak sanggup berbuat apa-apa selain mendapatkan takdir yang dipaksakan kepadanya.
Adapun faham Qadariyah lahir pertama kali di dalam sejarah pemikiran islam dari Ma’bad al-juhani. Yang pertama kalinya dilontarkan oleh Ma’bad al-juhani disebarluaskan oleh Ghailan ad-Dimasyqy, menurutnya insan berkuasa atas perbuatan-perbuatannya. Bila berbuat baik atau berbuat yang jelek tiruana itu atas kemauannya bebas dari insan itu sendiri. Faham Qadariyah menolak adanya qadha dan qadar.

Aliran Syi’ah

Syi’ah yaitu golongan yang mendukung Ali dan menganggap suatu pemerintahan yang tidak dipimpin oleh Ali dan keturunannya, maka pemerintahan itu tidak sah dan menyeleweng. Syi’ah berdiri sebagai suatu aliran teologi dan sekarang mempunyai pengikut yang tersebar di dunia. Bagi Ahlus Sunnah, pokok-pokok dasar aqidah islam itu yaitu at-Tauhid, an-Nubuwwah, al-ma’ad, dan kemudian amal yang dibina di atas tiang agama, yaitu syahadat, shalat, puasa, zakat, dan haji. Bagi syi’ah disamping hal-hal tersebut ditambah lagi dengan satu pokok dasar yaitu I’tikad dengan imamah. Aliran Syi’ah terpecah belah menjadi beberapa golongan, yang terbesar diantaranya yaitu Ghulatus syi’ah, Syi’ah imamiah, Rafidhah dan Zaidiah.

Baca Juga: Rukun Islam

Menurut Al-Baghdadi

golongan sabaiyah mempercayai bahwa Ali itu yaitu Tuhan dan ibarat dengan zat Tuhan. Al-Milithy menyatakan kafir golongan ini, dianggap sebagai orang-orang tidak berada diatas hujjah yang benar. Golongan Bayaniyah menyatakan bahwa Tuhan tercipta dari cahaya yang terbentuk tubuh sebagaimana manusia, sedangkan Ali mempunyai sifat-sifat ketuhanan dan sebagian dari Tuhan menjadi tubuh Ali. Demikianlah sebagian dari faham Ghulatus syi’ah dan Rafidhah umumnya berpendirian tajsim dan tasybih juga percaya dengan hulul dan tanasukh.
Berbeda dengan pendapat aliran Ghulat, Syi’ah Imamiah beropini sama dengan aliran Mu’tazilah yang menolak adanya sifat-sifat berdiri atas zat. Golongan ini beropini bahwa Tuhan Maha Esa, tidak serupa dengan segala sesuatu atas-Nya, tidak disifatkan dengan sifat yang juga disifatkan kepada makhluk, bukan jisim, bukan bentuk, bukan jauhar, bukan ‘aradh. Tidak ada ukuran berat, tidak gerak atau diam, tidak bertempat, tidak beranak, dan tidak diperanakan. Syi’ah Imamiah cenderung mengkafirkan orang yang berpendirian tasybih.

Menurut golongan Ismailiah

Tuhan itu tidak dikatakan bagi-Nya maujud tidak maujud, tidak alim, tidak jahil, tidak qadir dan tidak ajiz. Imam syahrastani, menyataka bahwa golongan Ismailiah ialah segolongan orang yang menolak sifat-sifat hakiki bagi Tuhan, melepaskan tiruana sifat atas zat Tuhan. Tetapi sehabis masuknya filsafat yunani di masa khalifah Ma’mun secara intensif mereka mengawinkan filsafat dengan ajaran-ajaran agama, maka dari sinilah mulai terjadi penyimpangan-penyimpangan, khususnya di kalangan Ikhwanus shafa yang berasal dari golongan ini.
Imam Syahrastani menuturkan, syi’ah yaitu segolongan kaum muslimin yang mendukung Sayyidina Ali r.a. dan berpendirian bahwa beliaulah yang memimpin Negara atas ketetapan Rasulullah, dan imamah tidak boleh keluar dari keturunannya.

Aliran Mu’tazilah

Aliran Mu’tazilah tidak bisa dipisahkan dengan washil bin ‘Atha, nama lengkapnya Abu Huzail Washil bin ‘Atha, lahir di madinah 80 H (689M) dan meniggal pada tahun 131 H (749) di Basrah. Dasar umum pikiran dalam aliran Mu’tazilah, tersimpul dalam lima anutan pokok, yang disebut dengan Ushul al-Khamsah, yaitu:
Tauhid. Tuhan Maha Esa, tidak mempunyai sifat yang sama dengan makhluk-Nya, tidak sama dengan sesuatu,tidak sanggup dilihat dengan mata, maha qadim yang tidak ada kesamaannya.

Keadilan Tuhan. Tuhan tidak menyukai kerusakan, tidak membuat perbuatan orang dan tidak memaksanya. Dasar prinsip keadilan ini terletak dalamkemampuan logika untuk berbuat baik, dan keadilan yang kuasa terletak di dalam kebaika itu.
Al wa’ad wal wa’id. Janji dan ancaman Tuhan niscaya akan terlaksana, yaitu kesepakatan berupa limpahan pahala dan ancaman berupa siksaan. Manzilah baina manzilatain. Seorag mukmin yang berbuat dosa besar tidak dihukumkan sebagai mukmin juga tidak dihukumkan sebagai kafir, tapi ia berada di kawasan diantara dua tempat. Apabila ia meninggal tetapi belum bertaubat maka ia jatuh kedalam neraka. Amar Ma’ruf Nahi Munkar. Prinsip ini ialah kewajiban untuk dilaksanakan sesuai dengan dasar-dasar berfikir aliran ini yaitu kekuasaan akal.