Implikasinya Dalam Penafsiran
Pendidikan

Implikasinya Dalam Penafsiran

Implikasinya Dalam Penafsiran

Implikasinya Dalam Penafsiran

Yang menjadi persoalan adalah, apakah perbedaan-perbedaan yang ada pada qira’at itu berimplikasi pada penafsiran? Jawabnya, perbedaan-perbedaan ini sudah barang tentu membawa sedikit atau banyak, perbedaan kepada makna yang selanjutnya berpengaruh kepada hukum yang diistinbath daripadanya. Karena itu, Al-Zarkasyi berkata: (Ramli Abdul Wahid, 1993:123)

Artinya: “Bahwa dengan perbedaan qira’at timbullah perbedaan dalam hukum. Karena itu, para ulama fiqh membangun hukum batalnya wudhu’ orang yang disentuh (lawan jenis) dan tidak batalnya atas dasar perbedaan qira’at pada: “kamu sentuh” dan “kamu saling menyentuh”. Demikian juga hukum bolehnya mencampuri perempuan yang sedang haidh ketika terputus haidhnya dan tidak bolehnya hingga ia mandi (dibangun) atas dasar perbedaan mereka dalam bacaan: “hingga mereka suci”.

Menurut qira’at Nafi’ dan Abu ‘Amr dibaca  dan menurut qira’at hamzah dan Al-Kisai; . Qira’a  pertama dengan sukun tha  dan dhammah ha’ menunjukkan larangan menggauli perempuan itu pada ketika haidh. Ini berarti bahwa ia boleh dicampuri setelah terputusnya haidh sekalipun sebelum mandi. Inilah pendapat Abu Hanifah. Sedangkan qira’at kedua dengan tasydid (suara ganda) tha’ dan ha’   menunjukkan adanya perbuatan manusia dalam usaha menjadikan dirinya bersih. Per­buatan itu adalah mandi sehingga  ditafsirkan dengan  (mandi).  Berdasarkan qira’at Hamzah dan Al-Kisai, jumhur ulama menafsirkan bacaan yang tidak bertasydid dengan makna bacaan yang bertasydid.

Perbedaan antara qira’at dan juga mempengaruhi  perbedaan dalam istinbath hukum. Menurut mazhab Hanafi dan Maliki, semata-mata bersentuh antara laki-laki dan perempuan tidak membatalkan wudhu’. Sebab, menurut Hanafi, kata;     di sini berarti jima’ (hubungan kelamin) dan menurut Maliki berarti bersentuhan yang disertai dengan perasaan nafsu. Sedangkan menurut mazhab Syafi’i, ber­sentuhan semata akan membatalkan wudhu’.

Dari sudut qira’at, perbedaan qira’at dalam ayat ini jelas menimbulkan perbedaan pengertian. Qira’at pertama: mengandung unsur interaksi antara pihak yang menyentuh dan yang di­sentuh, baik interaksinya sampai kepada jima’sebagaimana yang dipahami mazhab Hanafi maupun haanya sampai kepada batas perasaan syahwat sebagaimana yang dipahami dalam mazhab Maliki. Sebab, kata: termasuk bentuk kata kerja musyarakah dalam ilmu sharaf. Sementara itu, qira’at: adalah bentuk kata kerja muta’addi (transitif) yang tidak mengandung unsur musyarakah. Karena itu, qira’atpertama mendukung pendapat mazhab Hanafi dan Maliki dan qira’at kedua mendukung pendapat mazhab Syafi’i. Di samping ini, masing-masing memang mempunyai alasan lain.

sumber :

https://grupoamayatelleria.com/emma-the-cat-apk/