Ingkar Sunnah Sekarang

Ingkar Sunnah Sekarang

Ingkar Sunnah Sekarang

Ingkar Sunnah Sekarang
Ingkar Sunnah Sekarang

 

Sesudah Abad Ke-2 H

Sesudah abad kedua hijri, tidak ada catatan sejarah yang meyebutkan kelompok muslimin mana yang menolak hadits. Sedang meraka yang menolak hadits tempo dulu, tepatnya pada abad kedua hijri, sudah tidak ada lagi. Sesudah abad kedua itu, sampai kira-kira sebelas abad berikutnya tidak kedengaran ada yang menolak sunnah. Barulah setelah Negara-negara Barat menjajah negeri-negeri Islam, mereka mulai menyebarkan benih-benih busuk untuk melumpuhkan kekuatan Islam. Pada saat itulah di Irak muncul orang yang menolak hadits, sedangkan di Mesir hal itu muncul pada masa Muhammad Abduh. Ini menurut kesimpulan Abu Rajjah. Apa bila hal itu benar, Abu Rajjah menuturkan Imam Muhammad Abduh mengatakan bahwa ummat Islam saat ini tidak mempunyai pemimpin lain kecuali Al-Qur’an. Islam ang benar adalah Islam tempo dulu sebelum munculnya perpecayah dalam tubuh muslim.

Alur Pikiran

Alur pikiran ini kemudian di ikuti oleh

Dr. Taufiq Sidqi

yang menulis dua buah artikel dalam majalah al-Manar dengan judul “Islam adalah Al-Qur’an itu sendiri” dengan beragam ayat-ayat al-Qur’an saja “tidak perlu hadits” pikiran Taufiq Sidqi ini mengkritik Rasyid Ridha ia tertarik untuk memberikan tanggapan, “apakah hadits yang juga disebut dengan sunnah yang berupa ucapan nabi itu dapat disebut sebgai agama dan syari’ah secara umum, mmeskipun itu bukan merupakan sunnah yang harus dukerjakan dengan sepakat ulama pertama pada masa awal islam.

Rasyid Ridho

sangat mendukung pendapat Dr. Taufiq Sidqi, dia membagi hadits mutawatir dan non mutawatir menurut Rasyid Ridho, hadits yang kita terima secara mutawatir seperti hadits jumlah rakaat shalat, puasa dan sebagainya wajib kita terima sebagai suatu agama secara umum. Sedangakan hadits non mutawatir disebut agama khusus kita tidak wajib mengetahuinya.
Pendapat yang dikomentari Rasyid Rihda pendapat yang ditulis oleh Ibnu Abd al-Bar dll. Diterangkan bahwa Abu Bakar membakar catatan-catatan hadits sebelum ada perintah dari pengusa, atau para sahabat menulis hadits hanya untuk di hafal sendri, setelah itu dihapus kembali, dan dari ini para sahabat tidak bermaksud menjadikan hadits itu secara keseluruhan sebagai suatu agama secara umum, abadi seperti halnya al-Qur’an, inilah pendapat Rasyid Ridha tentang hadits Nabi.

Baca Juga: