Insentif dan penghargaan
Pendidikan

 Insentif dan penghargaan

 Insentif dan penghargaan

 Insentif dan penghargaan

Perusahaan MLM biasa memberi reward atau insentif pada mereka yang berprestasi. Islam membenarkan seseorang mendapatkan insentif lebih besar dari yang lainnya disebabkan keberhasilannya dalam memenuhi target penjualan tertentu, dan melakukan berbagai upaya positif dalam memperluas jaringan dan levelnya secara produktif. Kaidah Ushul Fiqh mengatakan: Besarnya ijrah (upah) itu tergantung pada kadar kesulitan dan pada kadar kesungguhan.

Penghargaan kepada upline yang mengembangkan jaringan (level) di bawahnya (downline) dengan cara bersungguh-sungguh, memberikan pembinaan (tarbiyah), pengawasan serta keteladanan prestasi (uswah) memang patut dilakukan. Dan atas jerih payahnya itu ia berhak mendaptkan bonus dari perusahaan, karena ini selaras dengan sabda Rasulullah : Barang siapa di dalam Islam berbuat suatu kebijakan maka kepadanya diberi pahala, serta pahala dari orang yang mengikutinya tanpa dikurangi sedikitpun (hadis).

Insentif diberikan dengan merujuk skim ijarah. Intensif ditentukan oleh dua kriteria, yaitu dari segi prestasi penjualan produk dan dari sisi berapa banyak downline yang dibina sehingga ikut menyukseskan kinerja. Dalam hal menetapkan nilai insentif ini, ada tiga syarat syariah yang harus dipenuhi, yakni: adil, terbuka, dan berorientasi falah (keuntungan dunia dan akhirat). Insentif (bonus) seseorang (upline) tidak boleh mengurangi hak orang lain di bawahnya (downline), sehingga tidak ada yang dizalimi.

Sistem insentif juga harus secara transparan diinformasikan kepada seluruh anggota, bahkan dalam menentukan sistemnya dan pembagian insentif (bonus), para anggota perlu diikutsertakan, sebagaimana yang terjadi di  MLM Syariah Ahad-Net Internasional. Dalam hal ini tetap dilakukan musyawarah sehingga penetapan sistem bonus tidak sepihak. Selanjutnya, keuntungan dalam bisnis MLM, berorientasi pada keuntungan duniawi dan ukhrawi. Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin mengatakan bahwa keuntungan dalam islam adalah keuntungan dunia dan akhirat. Keuntungan akhirat maksudnya, bahwa dengan menjalankan bisnis itu, seseorang telah dianggap menjalankan ibadah, (asalkan bisnisnya sesuai dengan syariah). Dengan bisnis, seseorang juga telah membantu orang lain dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.

  1. Kewajiban harga produk

Setiap perdagangan pasti berorientasi pada keuntungan. Namun, Islam sangat menekankan kewajaran dalam memperoleh keuntungan tersebut. Artinya, harga produk harus wajar dan tidak di-mark up sedemikian rupa dalam jumlah yang amat mahal, sebagaimana yang banyak terjadi diperusahaan bisnis MLM saat ini. Sekalipun Al-Qur’an tidak menentukan secara fixed besaran nominal keuntungan yang wajar dalam perdagangan, namun dengan tegas Al Qur’an berpesan, agar pengambilan keuntungan dilakukan secara fair, saling rida dan menguntungkan.

Penetapan harga terlalu tinggi dari harga normal, sehingga memberatkan konsumen, dapat dianalogikan dengan ghabn, yaitu menjual satu barang dengan harga tinggi dibanding harga pasar. karena itu, menurut Bahauddin Darus, Agustianto, Ramli Abdul Wahab, dan Miftahuddin, terdapat dua belas dalil dan alasan keharaman bisnis BMA dan sejenisnya tersebut. Selanjutnya agar MLM menjadi MLM yang islami perlu memenuhi 12 syarat, yaitu :

  1. a)Produk yang dipasarkan harus halal, thayyib (berkualitas) dan menjauhi syubhat ( syubhat adalah sesuatu yang masih meragukan).

baca jgua :