Perikanan

Isi dari Prasasti di Nusantara

Isi dari Prasasti di Nusantara

Meski berarti “pujian”, tidak semua mengandung puji-pujian. Sebagian besar prasasti diketahui memuat keputusan yang dikeluarkan oleh penguasa atau raja.
Oleh sebab itu apa yang terdapat dalam prasasti merupakan pemberitaan yang mengandung informasi-informasi yang sangat penting dan resmi dari lingkungan pemerintahan atau raja.
Sumber-sumber tertulis berupa prasasti di masa Mataram Kuno memberikan informasi terkait dengan masalah pemerintahan kerajaan, seperti masalah pemberian hadiah kepada pejabat daerah, silsilah raja, stratifikasi sosial masyarakat, masalah pajak dan kekuasaan serta sosial ekonomi lainnya.
Prasasti dapat menceritakan mengenai kehidupan masyarakat, administrasi dan birokrasi kerajaan, kehidupan sosial-ekonomi, pelaksanaan hukum, sistem pembagian kerja, pajak, perdagangan, keagamaan, seni dan pekerjaan, maupun adat istiadat.
Ada juga yang berupa keputusan pengadilan tentang perkara perdata yang disebut jayapatra atau jayasong, sebagai tanda kemenangan (jayacikna), tentang utang-piutang (suddhapatra), dan tentang kutukan atau sumpah yang kebanyakan diketemukan menyangkut kerajaan Sriwijaya. Ada pula prasasti yang berisi tentang silsilah suatu tokoh atau genealogi raja.
Prasasti yang lengkap terdiri dari beberapa bagian isi antara lain pada prasasti penetapansima, adalah seruan sebagai pembukaan, dengan ucapan selamat atau penghormatan kepada dewa.
Setelah seruan tersebut adalah berupa bagian yang menunjukkan penanggalan, antara lain menunjuk hari, tanggal, bulan, dan tahun.
Penanggalan tersebut dilanjutkan dengan penyebutan nama raja atau pejabat pemberi perintah. Hal tersebut kemudian dilanjutkan dengan nama pejabat tinggi yang mengiringi, meneruskan dan menerima perintah.
Setelah bagian itu semua dilanjutkan pada bagian yang kelima, yaitu bagian yang menjadi pokok isi atau pokok peristiwa yang diabadikan dalam prasasti, yaitu berisi penetapan suatu daerah menjadi sima. Penetapan sima tersebut diikuti oleh bagian yang sering disebut dengan Sambandha, yaitu bagian yang berisi alasan-alasan daerah tersebut dijadikan daerah sima.
Ternyata dalam prasasti terdapat pula bagian yang berupa daftar para saksi atau para pejabat yang hadir pada peristiwa tersebut. Selanjutnya bagian prasasti yang terakhir berisi sumpah, ancaman atau kutukan bagi siapa yang telah melanggar ketentuan-ketentuan yang diberlakukan; dan diakhiri dengan bagian penutup.
Bahan Pembuatan Prasasti
Prasasti merupakan salah satu wujud peninggalan tertulis dari masa lampau yang biasanya dipahatkan di batu atau logam. Dalam periode sejarah kuno Indonesia, prasasti diklasifikasikan sebagai hasil budaya manusia yang bersifat moveable(dapat dipindahkan) di samping tinggalan-tinggalan yang tidak dapat dipindahak (unmoveable) berupa bangunan-bangunan.
Bahan yang digunakan untuk menuliskan biasanya berupa batu atau lempengan logam, daun dan kertas. Selain batuan jenis andesit, jenis batu lainnya yang digunakan adalah batu kapur, batu pualam, dan basalt.
Prasasti batu kadang disebut upala prasasti, yang menggunakan bahan logam baik tembaga, perak, emas atau perunggu, disebut tamra prasasti, ripta prasasti yang ditulis di atas daun tal atau lontar. Ada juga yang berbahan tanah liat atau tablet, Isi tablet ini yang terbanyak adalah mantra-mantra agama Buddha.

D.    Bahasa dan Aksara Prasasti

Informasi yang tertulis dalam prasasti (sebagai sarana) adalah berupa bahasa (sebagai prasarana), yang merupakan salah satu wujud dari tujuh unsur kebudayaan universal.
Melalui prasasti—salah satunya—bahasa berperan sebagai memori bagi kebudayaan yang sekaligus merupakan produk kebudayaan.
Prasasti juga dapat diklasifikasikan sebagai artefak—sebagai benda hasil ciptaan manusia yang dapat dipindahkan—sekaligus sebagai kebudayaan dalam bentuk tertulis yang di dalamnya memuat bahasa beserta serangkaian makna yang berasal dari masa lalu.
Prasasti-prasasti pertama yang diketemukan di Nusantara ditulis bukan dalam bahasa setempat melainkan bahasa Sanskerta.
Sanskerta pada masa itu adalah bahasa pendidikan yang digunakan oleh ahli-ahli agama dan kalangan terpelajar mungkin sama dengan bahasa Yunani-Latin pada masa kemudian dan atau bahasa Inggris pada masa sekarang.
Hal ini memberi kesan bahwa penggunaan Bahas Sanskerta memang disengaja sebagai kegiatan Intelektual dan menunjukan perbedaan antara penguasa dan jelata.
Periode yang dianggap paling aktif dan banyak menghasilkan prasasti terjadi pada abad ke-8 Masehi sampai dengan abad ke-14 Masehi.
Aksara yang banyak digunakan adalah Sansekerta, Pallawa, Pranagari, Melayu Kuno, Jawa Kuno, Sunda Kuno, dan Bali Kuno. Bahasa yang digunakan juga bervariasi misalnya bahasa Sanskerta, Jawa Kuno, Sunda Kuno, dan Bali Kuno.
sumber :