Kaum Milenial Diminta Kawal Program Jokowi

Kaum Milenial Diminta Kawal Program Jokowi

Kaum Milenial Diminta Kawal Program Jokowi

Kaum Milenial Diminta Kawal Program Jokowi
Kaum Milenial Diminta Kawal Program Jokowi

Pemerintah selama ini telah banyak berbenah, terutama dalam memperlakukan kaum milenial

sebagai aset dan kekuatan, bukan beban atau masalah. Paradigma generasi milenial sebagai beban akan melahirkan kebijakan bersifat jangka pendek. Sebaliknya, kaum milenial yang dipandang sebagai aset akan memunculkan kebijakan positif dan bersifat jangka panjang.

“Presiden Jokowi telah menyiapkan beberapa program strategis untuk periode kedua pemerintahannya, di antaranya program KIP Kuliah dan Kartu Prakerja. Yang pertama di sektor pendidikan, yang kedua adalah peningkatan kualitas angkatan
kerja. Ini yang akan terus kita kawal,” kata Co-Founder Aktivis Milenial, Arief Rosyid, saat menyampaikan pidato untuk memperingati Hari Kebangkitan Nasional bertema “Milenial Melangkah Maju”. Acara yang digelar di Perpustakaan Nasional Jakarta, Minggu (19/5/2019), dihadiri aktivis pemuda dan ormas Islam, pengusaha, pegiat start-up, profesional dari berbagai bidang, serta politisi muda dan relawan, baik pendukung pasangan 01 dan 02. Pada kesempatan itu juga hadir mantan Ketua DPR Akbar Tandjung, Rektor IPB Arif Satria, dan pengusaha nasional Erick Thohir.

Arief Rosyid juga menyerukan persatuan dan kolaborasi lintas kelompok

“Sekeras apa pun sebuah perhelatan demokrasi, tujuannya tidak lain untuk memperkuat simpul kebangsaan. Kami ingin meminjam semangat kebangsaan Boedi Oetomo. Kami ingin segera move on, melangkah maju dari pembelahan politik yang terlalu tajam. Jika belum bisa dari atas, kami mendorong persatuan dari bawah,” ujarnya melalui keterangan tertulis yang diterima .com, Minggu (19/5/2019).

Menurut Arief, generasi milenial yang tumbuh setelah era reformasi adalah generasi terbaik bangsa ini. Mereka mendapat pendidikan dan lingkungan politik yang lebih baik dibanding generasi sebelumnya. Mereka juga tidak mengalami represi oleh rezim otoriter, sehingga cenderung lebih optimistis melihat politik.

“Satu dari tiga penduduk kita saat ini adalah generasi milenial. Artinya mereka bukan lagi minoritas.

Mereka mulai masuk ke berbagai sektor, baik bisnis, kegiatan sosial, dan dunia politik. Mereka tidak mewarisi konflik masa lalu, lebih berani membuka ruang pengabdian baru dan mendorong perubahan,” katanya.

Lebih jauh disebutkan, negara-negara, seperti Korea Selatan, Tiongkok, Jepang, dan Singapura, berhasil membangun ekonominya dengan memanfaatkan kondisi angkatan kerja yang dimiliki. Tiongkok sukses menjadi negara adidaya karena berhasil memanfaatkan 30 persen pendapatan per kapita untuk pembangunan SDM.

Saat ini lebih dari separuh generasi milenial tinggal di perkotaan. Mereka memiliki akses luas terhadap fasilitas pendidikan, kesehatan, teknologi informasi, dan internet. Mereka memiliki kepercayaan diri untuk berdiri sejajar dengan bangsa-bangsa lain, terutama dalam mengembangkan potensi ekonomi digital dan industri kreatif.

“Suksesnya pelaksanaan Asian Games ke-18 di Jakarta tahun 2018 lalu menunjukkan bahwa secara sosiologis, generasi ini telah siap mengambil peran strategis dalam menentukan perjalanan bangsa,” tutup Arief.

 

Sumber :

http://aldirenaldi.blog.institutpendidikan.ac.id/sejarah-ken-sora/