Kisah Perjalanan Hidup Prabowo Subianto

Kisah Perjalanan Hidup Prabowo Subianto

Kisah Perjalanan Hidup Prabowo Subianto

Kisah Perjalanan Hidup Prabowo Subianto
Kisah Perjalanan Hidup Prabowo Subianto

Prabowo merupakan Capres RI yang akan bersaing dengan Jokowi pada pemilu presiden 9 Juli nanti. Siapakah Prabowo Subianto itu sebenarnya ? Bagaimanakah kisah dan latar belakang hidup capres kita ini ? Berikut ini Kumpulan Sejarah akan berbagi informasi menarik mengenai Kisah Hidup Prabowo Subianto.

Kisah Hidup Prabowo Subianto

Letnan Jenderal (Purn) Prabowo Subianto Djojohadikusumo (lahir di Jakarta, 17 Oktober 1951) adalah seorang mantan Danjen Kopassus, pengusaha dan politisi. Prabowo merupakan Anak ketiga dari Begawan Ekonomi Sumitro Djojohadikusmo. Sepuluh tahun masa kecilnya dihabiskan di Singapura, Malasyia, Hongkong, Swis dan Inggris. PrabowoMenamatkan sekolah menengah di London pada tahun1967. Kemudian Lulus dari Akabri Magelang pada tahun 1974. Prabowo juga pernah Mengikuti pelatihan antiteroris di Fort Braggs, Amerika Serikat pada tahun 1976, Mengikuti pelatihan antiteroris di Jerman Barat pada tahun 1981. Prabowo pernah menjadi Wakil Komandan Kopasssus 1983 dan menikahi Siti Hediati, putri Soeharto pada tahun yang sama. Prabowo diangkat menjadi Komandan Kopassus 1995 dan Pangkostrad 1998.

Perjalanan Hidup Prabowo Subianto

Prabowo Subianto Djojohadikusumo adalah putra ketiga dari pasangan Sumitro Djojohadikusumo dan Dora Sigar. Sejak bocah, Prabowo hidup dalam lingkungan pelarian sang ayah ke luar negeri, akibat berselisih paham dengan penguasa saat itu, Presiden Soekarno.

Selama kurang lebih 10 tahun, Prabowo menghabiskan masa kecilnya di Singapura, Malaysia, Hongkong, Swiss dan Inggris. Pengalaman ini membentuk karakter Prabowo menjadi anak yang mandiri, mampu menyesuaikan diri dan pekerja keras.

Sejak dini, ayahnya selalu menanamkan prinsip-prinsip semangat juang kepada Prabowo. Sumitro sengaja mengabadikan nama adiknya, Subianto, yang gugur melawan penjajah Jepang, pada nama anaknya. Sumitro berharap Prabowo kelak menjadi pejuang seperti paman-pamannya yang berdarah Banyumas, yang menurutnya mewarisi tradisi perlawanan.

Usia 16 tahun, Prabowo menamatkan sekolah menengah di London pada 1967. Sebenarnya ia diterima di tiga universitas di Amerika Serikat, yaitu Universitas Colorado, George Washington, dan Rhode Island. Tapi, ayahnya menunda Prabowo masuk kuliah karena khawatir dengan dampak psikologis akibat kuliah di usia terlalu muda.

Sang Ayah membawa Prabowo kembali ke Indonesia, agar lebih mengenal tanah airnya. Ini yang kemudian membuat pengagum Panglima Jenderal Sudirman itu, lebih memilih ke Magelang, Jawa Tengah, masuk ke Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia, menjadi Taruna. Disinilah episode penting karir Prabowo ditorehkan.

Prabowo menjadi lulusan Akabri terbaik pada 1974

Dua tahun kemudian, Prabowo menjadi Komandan Peleton Para Komando Group-1 Komando Pasukan Sandi Yudha (Kopassandha) untuk ditugaskan ke Timor Timur sebagai bagian dari Tim Nanggala. Pada 1977, Prabowo menjabat Komandan Kompi Para Komando Group-1 KOPASSANDHA dengan pangkat Letnan Satu.

Tiga tahu berselang, ia ditugaskan mengikuti pelatihan antiteroris di Fort Braggs, Amerika Serikat. Pada 1981, Prabowo mengukir prestasi yang menonjol,yaitu menjadi lulusan terbaik pada pelatihan antiteroris GSG-9 di Jerman Barat. Pada tahun 1983, Prabowo menjabat Wakil Komandan Detasemen 81 Komando Pasukan Khusus (Kopassus).

Di tahun yang sama, Prabowo menikahi Siti Hediati Harijadi, anak Presiden Soeharto. Baru beberapa saat menikah, Prabowo kembali ditugaskan untuk sebuah operasi ke Timor Timur. Di sini Prabowo dan pasukan sempat hilang selama 12 jam karena pasukannya dijebak musuh. Nasib berpihak padanya, Prabowo berhasil selamat.

Setelah itu, berbagai prestasi kemiliteran diraih Prabowo. Pada 1995 ia dipercaya sebagai Komandan Jendral Kopassus. Pada saat itulah, Prabowo diduga mendalangi penculikan dan penghilangan paksa terhadap sejumlah aktivis, yang dilakukan oleh sebuah tim yang disebut Tim Mawar. Hingga kini para korban masih belum ditemukan.

Pada 1998, Prabowo ditunjuk menjadi Panglima Komando Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad). Tapi, jabatan ini tak lama dipegangnya, karena keburu meletus peristiwa Mei 1998. Peristiwa Mei banyak dipercaya sebagai sebuah skenario dari kekuatan militer, yang menurut kontroversi, melibatkan polemik internal militer, antara Prabowo dengan Panglima ABRI Wiranto.

Akibatnya Prabowo dipindah tugaskan menjadi Komandan Sekolah Staf dan Komando ABRI. Melalui sidang pertimbangan Dewan Kehormatan Perwira (DKP), Panglima ABRI memberhentikan Letnan Jenderal Prabowo dari dinas kemiliteran.

Baca juga artikel: