Perkebunan

Madzab Maliki

Madzab Maliki

Ulama Maliki berpendapat bahwa seorang perjaka merdeka yang melakukan jarimah zina harus dikenai sanksi pengasingan setelah dicambuk seratus kali. Pengasingan harus dilakukan selama satu tahun ditempat yang jauh dari tanah airnya. Hal ini dimasukkan sebagai celaan bagi pelaku dan menjauhkannya dari tempat berlangsungnya perzinaa.

Adapun bagi gadis yang telah melakukan jarimah zina, sanksi pengasingan tidak berlaku. Sebab, kalau gadis dihukum dengan pengasingan dikhawatirkan akan mengakibatkan munculnya fitnah.

  1. b)Madzab Syafi’i dan Hambali

Kedua madzab ini berpendapat bahwa pelaku zina ghairu muhsan yang kedua-duanya berstatus merdeka dan dewasa diberlakukan sanksi cambuk seratus kali dan diasingkan ketempat yang jauh. Kedua madzab ini memberlakukan pengasingan, baik terhadap perjaka maupun gadis. Namun, bagi si gadis harus disertai mahram yang akan menemani dan mengurusinya di tempat pengasingan.

  1. c)Madzab Hanafi

Madzab Hanafi berpendapat bahwa hukuman bagi pelaku zina ghairu muhsan yang berupa cambuk seratus kali dan pengasingan tidak dapat dicampuradukan. Sebab, hukuman pengasingan sama sekali tidak disebutkan didalam Surah An-Nur ayat 2. Madzab ini bertumpu pada pandangan Imam Abu Hanifa yang berpendapat bahwa pengasingan termasuk ta’zir dan sangat erat kaitannya dengan konsep kemaslahatan.

Dari uraian diata dapat disimpulkan bahwa berdasarkan konsesus Jumhur Ulama pelaku jarimah zina ghairu muhsan harus dikenakan sanksi berupa hukuman cambuk seratus kali dan hukuman pengasingan selama satu tahun. Hanya saja untuk jenis hukumna pengasingan, menurut Imam Malik dan Al-Auza’i tidak diberlakukan bagi perempuan. Sementara itu menurut Imam Syafi’i, Ahmad, dan Dawud Al-Zahiri hukuman pengasingan tetap diberlakukan, baik perempuan maupun laki-laki.

sumber :

Tom Clancy’s ShadowBreak 1.3.4 Apk + Data for android