Memandikan jenazah dan Menguburkan

Memandikan jenazah dan Menguburkan

Memandikan jenazah dan Menguburkan

Memandikan jenazah dan Menguburkan
Memandikan jenazah dan Menguburkan

Memandikan jenazah

Hal ini dapat dilakukan dengan cara

Meletakkan janazah pada tempat yang sepi, dan tempatkan pada posisi lebih atas (seperti meletakkanya pada keranda) dan menutup auratnya.
Untuk Orang yang memandikan jenazah memposisikan jenazah duduk sedikit miring ke belakang dengan ditopang tangan kanannya, sementara tangan kirinya mengurut bagian perut jenazah dengan penekanan agar apa yang ada di dalamnya keluar. Lalu yang memandikan membungkus tangan kirinya dengan kain atau sarung tangan dan membasuh lubang depan dan belakang si mayit. Kemudian membersihkan mulut dan hidungnya lalu mewudlukannya sebagaimana wudlu orang hidup.
Membasuh kepala dan wajah jenazah dengan sabun dan menyisir rambutnya jika mempunyai rambut.dan apabila ada rambut yang tercabut maka dikembalikan lagi ke asalnya untuk ikut dikuburkan.

Membasuh seluruh sisi kanan tubuh dari yang dekat dengan wajah, kemudian berpindah membasuh sisi kiri badan juga dari yang dekat dengan wajah. Kemudian membasuh bagian sisi kanan dari yang dekat dengan tengkuk, lalu berpindah membasuh bagian sisi kiri juga dari yang dekat dengan tengkuk. Dengan cara ini semua orang yang memandikan meratakan air ke seluruh tubuh si mayit. Dan ulangi cara seperi ini hingga 3 kali agar lebih sempurna, dan disunnahkan dalam basuhan yang ketiga untuk dicampur dengan kapur barus, itu jika jenazah bukan orang yang sedang melakukan ibadah ihram. Dan setelah selesai memandikan jenazah hendaklah jenazah dikeringkan agar nanti tidak membasahi kain kafan saat dikafani.

Dalam kitab Kasyifatus Saja Syekh Nawawi menuturkan disunahkan basuhan pertama dengan daun bidara, basuhan kedua menghilangkan daun bidara tersebut, dan basuhan ketiga dengan air bersih yang diberi sedikit kapur barus yang sekiranya tidak sampai merubah air. Ketiga basuhan ini dianggap sebagai satu kali basuhan dan disunahkan mengulanginya dua kali lagi seperti basuhan-basuhan tersebut diatas.

Sebaiknya yang memandikan jenazah laki-laki adalah seorang laki-laki dan jika jenazah adalah perempuan maka yang memandikan adalah seorang perempuan, namun seorang laki-laki boleh memandikan jenazah isterinya dan begitu sebaliknya seorang perempuan boleh memandikan jenazah suaminya. Tujuan dalam memandikan jenazah ini dalam syariat islam adalah untuk memuliakan dan membersihkan jenazah orang islam dan hukumnya adalah wajib (fardhu kifayah) kecuali kepada orang yang mati syahid dalam peperangan yang tidak wajib dimandikan dan disholati dan hanya dikafani dan dikuburkan saja.

Menguburkan jenazah

Kewajiban yang keempat bagi seorang muslim yang masih hidup terhadap muslim yang telah meninggal adalah menguburkannya. Tentunya menguburkan jenazah tidak asal dimasukkan dan ditimbun tanah begitu saja. Ada aturan-aturan yang mesti diikuti.

Tatacara menguburkan jenazah dengan baik

Jenazah dikubur dalam sebuah lubang dengan kedalaman setinggi orang berdiri dengan tangan melambai ke atas dan dengan lebar seukuran satu dzira’ lebih satu jengkal.
Meletakkan jenazah dengan posisi miring kekanan dan menghadap ke arah kiblat. Dan disunahkan menempelkan pipi jenazah ke tanah.
Menggali liang kubur secara dalam pada tanah yang kuat agar bau jenazah tidak dapat tercium dan aman dari binatang buas dan juga longsor. Bentuk liang kubur berupa lahat yaitu liang yang khusus dibuat di dasar kubur. Lahat ini menghadap ke kiblat dan berada di pinggir untuk meletakkan jenazah. Liang ini dibuat khusus di dasar kubur pada bagian tengah.
Setelah jenazah diletakkan di dasar kubur disunahkan untuk melepas tali ikatannya dimulai dari kepala.

Sumber: https://www.dutadakwah.co.id/5-rukun-nikah-dalam-islam-yang-harus-diketahui/