Agama

Pembahasan Mengenai Sholat Qadha

Pembahasan Mengenai Sholat Qadha

Pembahasan Mengenai Sholat Qadha

Meng-qadha Shalat dengan bersengaja

Para Fuqaha sependapat bahwa orang yang terlupa atau tertidur, sehingga shalatnya tertinggal maka diwajibkan atasnya mengqadha shalatnya. Pendapat ini berdasarkan hadis Nabi,

اِذَا نَسِيَ اَحَدُكُمْ صَلاَةً اَوْنَا مَ عَنْهَا فَلْيُصَلّهَا اِذَا ذَ كَرَهَا…الحديث..

Artinya: “Apabila salah seorang kamu lupa akan shalatnya atau tertidur, maka hendaklah dia shalat dikala dia ingat”.

Tetapi timbul perbedaan mengenai orang yang sengaja meninggalkan shalat, apakah mereka wajib mengqadha shalat yang tetinggal itu atau tidak?

1. Pendapat kalangan Madzhab Syafi’i, Maliki, dan Hanafi yaitu orang yang sengaja meninggalkan shalatnya maka wajib mengqadha shalatnya. Hal ini diperkuat dengan dalil hadis yang artinya: “ mereka menceritakan kepada Nabi, tentang shalat yang mereka (tertinggal) karena tertidur. Beliau menjawab, bahwa tidak ada kesengajaan yang tertidur, hanya sebuah kelalaian (kesengajaaan) itu bagi orang yang bangun, maka apabila salah seorang diantara kamu lupa atau karena lupa atau tertidur akan sesuatu shalatnya hendaklah dikerjakan apabila ia ingat ”. (HR Bukhari, Abu Daud, dan Tirmuzi dari Abi Qatadah)

2. Pendapat Madzhab Zahiri, Ibnu Hamzin, dan salah satu riwayat dari kasim dan wazir dari madzhab syi’ah yaitu orang yang meninggalkan shalatnya dengan sengaja tidak wajib mengqadha shalatnya yang tertinggal itu dan kalaupun juga mereka mengqadha shalatnya maka shalatnya dianggap tidak sah. hal ini dikuatkan dengan Firman Allah, QS. Al-Maun: 4-5;

“Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat (4), (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnyan(5)”.

Pada dasarnya shalat yang tertinggal itu bagaikan hutang, dimana setiap hutang itu harus dibayar. Jadi, bagi orang yang tertinggal akan shalatnya maka ia wajib mengantinya atau mengqadhanya.

Masalah qadha Shalat bagi orang pingsan

Dalam hal ini terdapat perbedaan pendapat di antara para Fuqaha, yaitu:
1. Dari Jumhurul Fuqaha di antaranya madzhab Maliki, Syafi’i, Zahiri, dan Syi’ah yang berpendapat bahwa orang-orang yang pingsan tidak wajib mengqadha shalatnya yang tertinggal, melainkan kalau masih ada waktu untuk mengerjakannya setelah sadar.

Adapun dasar yang digunakan yaitu menggunakan qias, yaitu mengkiaskan orang yang pingsan dengan orang gila yang keduanya sama-sama kehilangan akal mereka. Karena para Fuqaha sepakat bahwa orang gila tidak wajib mengqadha shalatnya begitu juga dengan orang pingsan.

2. Pendapat Madzhab Hanbaliyang mengatakan bagi mereka wajib mengqadha Shalatnya yang tertinggal di waktu pingsan. Dasar yang digunakan yaitu lebih menggunakan Ratio, ialah kewajiban-kewajiban agama hanyalah dibebankan kepada orang yang berakal, karena itu orang yang pingsan termasuk orang yang hilnag akal, dengan sendirinya mereka tidak dibebankan sesuatu beban dalam agama, dan karena itu tidaklah wajib mengqadha beban yang tertinggal di saat kehilangan akal.

3. Pendapat Madzhab Hanafi yang mengatakan bahwa orang yang pingsan, yang waktu pingsannya tidak melebihi lima kali shalat maka wajib mereka mengqadhanya, tetapi apabila ia lebih dari itu maka tidak wajib mengqadha. Hal ini diperkuat dengan dalil yang diriwayatkan oleh Ali bin Abi Thalib yang telah pingsan selama empat kali sembahyang, kemudian sesudah beliau sadar beliau mengqadha shalatnya tersebut.

Dari pendapat-pendapat diatas, seperti yang kita ketahui atau bahkan berlaku sampai sekarang yaitu pendapat pertama, yang mengatakan bahwa orang yang pingsan tidak wajib mengqadha shalatnya, walaupun pingsannya sebentar ataupun lama.

Baca Juga: