Pengertian Ilmu Al-Jarh Wa Al-Ta’dil
Perikanan

Pengertian Ilmu Al-Jarh Wa Al-Ta’dil

Pengertian Ilmu Al-Jarh Wa Al-Ta’dil

Pengertian Ilmu Al-Jarh Wa Al-Ta’dil

Kata Al-Jarh (الجرح) merupakan bentuk dari kata Jaraha-Yajrahu (جرح – يجرح) atau Jariha-Yajrahu (جرح – يجرح) yang berarti cacat atau luka,[1] atau seseorang membuat luka pada tubuh orang lain yang ditandai dengan mengalirnya darah dari luka itu.[2] Istilah cacat ini digunakan untuk menunjukkan sifat jelek yang melekat pada periwayat hadiits seperti pelupa, pembohong, dan sebagainya.[3] Sedangkan kata Al-Ta’dil (التعديل) merupakan akar kata dari ‘Addala-Yu’addilu(عدل – يعدل) yang berarti mengadilkan, menyucikan, atau menyamakan.[4] Dengan demikian, ilmu Al-Jarh wa Ta’dil secara etimologis berarti ilmu tentang kecacatan dan keadilan perawi hadis.

Secara terminologis, Muhammad ‘Ajjaj Al-Khatib mendefinisikan Al-Jarh sebagai berikut:

ظهور وصف في الراوي يثلم عدالته او يخل بحفطه و ضبته مما يتر تب عليه سقوط روايته او ضعفه و ردها

“Nampaknya suatu sifat pada seorang  perawi yang dapat merusak nilai keadilannya atau melamahkan nilai hafalan dan ingatan, yang karena sebab tersebut gugurlah periwayatannya atau ia dipandang lemah dan tertolak”.[5]

Dalam definisi lain terminologi ilmu hadits, al-jarh berarti menunjukkan sifat-sifat tercela bagi seorang perawi, sehingga merusak atau mencacatkan kecacatan dan kedhabitannya[6]

Sedangkan Al-Ta’dil didefinisikan sebagai berikut:

تز كية الراوي الحكم عليه بانه عدل او ضابط

“Membersihkan seorang rawi dan menetapkannya bahwa ia adalah seorang yang adil atau dhabit”.

Dari beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa kajian ‘Ilmu Jarh wa Ta’dil terfokus pada penelitian terhadap perawi hadis, sehingga diantara mereka dapat dibedakan antara perawi yang mempunyai sifat-sifat keadilan atau kedhabit-an dan yang tidak memilikinya. Dengan tidak memiliki kedua sifat-sifat itu, maka hal tersebut merupakan indicator akan kecacatan perawi dan secara otomatis periwayatannya tertolak. Sebaliknya bagi perawi yang memiliki kedua sifat-sifat di atas, secara otomatis pula ia terhindar dari kecacatan  dan berimplikasi  bahwa hadis yang diriwayatkannya dapat diterima.

Atau bisa dikatakan Ilmu jarh wa ta’dil berarti ilmu yang membahas tentang kritik adanya aib (cacat) atau memberikan pujian pujian adil kepda seorang rawi.

Dr. ‘Ajjaj al-Khathib mendefinisikannya sebagai berikut :

sumber :

https://happinetjp.com/slice-it-apk/