Penjelasan Mengenai Aliran Salaf

Penjelasan Mengenai Aliran Salaf

Penjelasan Mengenai Aliran Salaf

Penjelasan Mengenai Aliran Salaf
Penjelasan Mengenai Aliran Salaf

Aliran Salaf

yaitu orang-orang Hanabilah (pengikut Ahmad bin Hanbal) yang berusa menghidupkan dan mempertahankan teologi ulama-ulama Salaf yang berpucak pada anutan Ahmad bin Hanbal, muncul pada era IV Hijri. Keterikatan Ahmad bin Hanbal dengan teks-teks Al-Qur’an dan sunah Rasulullah sudah membuat pandangan begitu sederhana dengan suatu pendirian yang teguh.
Kesederhanaan dan pendiriannya yang teguh itu Nampak saat ia menghadapi Minhat yaitu investigasi yang dilakukan oleh Gubernur Baghdad terhadap Ahmad bin Hanbal. Kejadian minhat ialah insiden besar yang diketahui dan dirasakan oleh seluruh kaum muslimin serta meninggalkan pesan awet semoga mempertahankan nash-nash agama di atas segala pertimbagan rasional.

Ciri khas mereka

yaitu kembali kepada penafsiran harfiah atas nash-nash dan memunculkan tradisi kalam dan aturan sebagaimana saat perkembangan pertama dalam islam, terutama pemikiran Ahmad bin Hanbal, serta menolak dominasi logika dalam memecahkan banyak sekali problem keagamaan. Bagi Ahmad bin Hanbal Iman yaitu perkataan dan perbuatan, dogma akan bertambah dengan melaksanakan perbuatan yang baik dan akan berkurang jikalau melaksanakan kemaksiatan. Ia juga menyatakan , Tuhan bersifat zat-Nya yang tinggi dengan sifat Qudrat, Iradat, Ilmu, Hayat, Sama’, Bashar, Kalam,dan lain sebagainya. Ia memutuskan mirip yang terdapat di Al-Qur’an dan Hadits Nabi.

Ahmad bin Hanbal memutuskan kewajiban mengimani qadar baik dan jelek serta wajib menaati perintah Allah. Tokoh populer yang membangkitkan Faham Hanbali tersebut yaitu Ibnu Hazm, lahir pada hari terakhir Ramadhan 384 H bertepatan dengan 7 November 994 M di Cordova dan wafat pada tahun 456 H atau 1604 M di Andalusia.

Menurut Ibnu Hazm Al-Qur’an banyak menyebut dengan kata Asma’ bukan dengan kata sifat. Dan lafadz sifat itu ditimbulkan oleh Mu’tazilah. Ibnu Hazm tidak membenarkan menyembah, meminta, serta berdo’a kepada selain Allah, lantaran spesialuntuk Allah lah satu-satunya Tuhan yang berhak disembah dan dimintai pertolongan-Nya. tidak ada orang yang dianggap suci kecuali para Nabi dan Rasul kesudahannya bersifat ma’shum. melaluiataubersamaini demikian ditolak wasilah dalam memohon kepada Allah, lantaran perbuatan yang sedemikian itu yaitu syirik.

Iman itu mencakup legalisasi dalam hati, ditetapkan dengan lisan, dan diamalkan dengan anggota. Iman berdasarkan Ibnu Hazm adalah, mengenal, meyakinka, membenarkan, tiruana rukun Iman disertai mentaati tiruana perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya

Baca Juga: Rukun Iman

Ibnu Taimiyah

adalah tokoh pemikiran islam Salafus Shaleh di pecahan Timur, dilahirkan di Harran pada tahun 661 H/1263 M, dan meninggal di Damaskus 728 H/1328 M. Bagi Ibnu Taimiyah, Al-Qur’an sebagai dasar Syari’ah sanggup diterima oleh logika yang benar dan bathin yang membersihkan. Apalagi Al-Qur’an sudah diperjelas oleh Hadits dan dimanifestasikan dalam tingkah laris para Salafus Shaleh. melaluiataubersamaini kata lain berdasarkan dia Islam yang benar yaitu bersumber kepada Al-Qur’an dan Sunnah Nabi di ikuti sobat erat Salafus Shaleh. Mengapa Salafus Shaleh? lantaran nash sendiri memutuskan bahwa generasi Salafus Shaleh yaitu generasi terbaik sehabis generasi Rasulullah.

Dari mereka itulah yang kemudian dikenal dengan Salafus Shaleh yaitu mereka para sobat erat yang berpegang teguh kepada Syara’ yang bersumber dari Al-Qur’an, Sunnah, Atsar, dan Ijma’, percaya kepada Allah dengan segala sifat-sifat-Nya, para Rasul dan Nabi, kitab-kitab yang diturunkan kepada mereka, para Malaikat, pada hari akhir, nirwana dan neraka, dan percaya kepada Qadha dan Qadar baik dan buruknya.