Uncategorized

Ruang ideal

Ruang ideal

Konsep dasar ruang publik adalah ruang nirsekat. Di sini, publik bisa berinteraksi dan dengan bebas mengemukakan pendapat sehingga memungkinkan terjadinya transformasi sosial dalam proses yang demokratis.

Ruang publik ideal seperti ini pertama kali digagas oleh Jurgen Habermas, filosof dari Jeman. Dalam bukunya The Structural Transformation of the Public Sphere: an Inquiry into a Category of Bourgeois Society, juga dalam Civil Society and the Political Public Sphere, Habermas menyebutkan, ruang publik yang ideal adalah yang mampu menjadi jembatan interaksi antara penguasa dan masyarakat dari beragam kelas. Hanya melalui ruang publik inilah dapat terwujud masyarakat yang dewasa, bebas penindasan, dan mampu menanggulangi krisis.

Konsepsi Habermas ini muncul dari pengamatannya terhadap ruang publik di Inggris dan Perancis. Menurutnya, ruang publik di Inggris dan Perancis sudah tercipta sejak abad ke-18. Pada zaman tersebut di Inggris orang biasa dari berbagai kelas berkumpul untuk berdiskusi di warung-warung kopi. Mereka mendiskusikan segalanya, mulai dari soal seni hingga ekonomi dan politik. Sementara di Perancis, perdebatan-perdebatan semacam ini biasa terjadi di salon-salon.

Sejarah Eropa sejak lama memang mengenal ruang publik, seperti Agora—ruang terbuka yang juga berfungsi sebagai pasar pada Yunani kuno—yang merupakan cikal bakal tradisi ruang publik. Atau juga Basillica dan Forum di zaman Romawi kuno, yang biasa digunakan untuk menyampaikan pendapat secara terbuka oleh publik.

Sebenarnya, tata kota kerajaan di Jawa pun mengenal ruang publik semacam ini melalui apa yang disebut alun-alun, yang selalu menjadi pusat orientasi atau titik nol dari sebuah kota. Namun, ruang seperti alun-alun ini semakin kehilangan fungsi dan kini tak lebih dari tempat berjualan pedagang kaki lima. Dengan demikian, banyak alun-alun warisan masa lampau di beberapa kota di Jawa yang diberi pagar pembatas di sekelilingnya.

Dampak sosial

Tiadanya ruang publik yang menjembatani pertemuan antarkelas sosial menyebabkan masyarakat tumbuh dalam dunia yang menyempit. Mereka hanya bersinggungan dengan dunia dari kelas berbeda melalui dunia maya, seperti melalui film atau tanyangan televisi, atau paling banter melalui jendela kaca mobil saat menyaksikan anak-anak yang meminta-minta di lampu merah. Tentu saja, nuansa yang tertangkap akan sangat berbeda

Namun, dunia layar kaca ini pun tak lepas dari diskriminasi dan hegemoni cara pandang dari kelas berpunya, yaitu melihat kemiskinan sebagai sesuatu yang jorok, harus disikat habis, atau paling banter patut dikasihani. Tengoklah sinetron atau acara-acara televisi kita yang kebanyakan menampilkan kemiskinan dari perspektif itu.

 

 

https://duniabudidaya.co.id/element-td-apk/