Sejarah Rumah Sakit Dr. Ciptomangunkusumo (RSCM)

Sejarah Rumah Sakit Dr. Ciptomangunkusumo (RSCM)

Sejarah Rumah Sakit Dr. Ciptomangunkusumo (RSCM)

Sejarah Rumah Sakit Dr. Ciptomangunkusumo (RSCM)
Sejarah Rumah Sakit Dr. Ciptomangunkusumo (RSCM)

 Sejarah RSUPN Dr Ciptomangunkusumo, tidak terlepas dari sejarah Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, karena perkembangan kedua instansi ini adalah saling tergantung dan saling mengisi satu sama lain. Pada tahun 1896, Dr H.Roll ditunjuk sebagai pimpinan pendidikan kedokteran di Batavia (Jakarta), saat itu laboratorium dan sekolah Dokter Jawa masih berada pada satu pimpinan. Kemudian tahun 1910, Sekolah Dokter Jawa diubah menjadi STOVIA, cikal bakal Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Dalam bulan Nopember tahun 1919 Pimpinan beserta staf rumah sakit Stadsverband yang terletak di Glodok dipindah ke gedungnya yang baru di Salemba. Penderitanya yang waktu itu berjumlah sekitar 300 orang dipindah dengan truk dalam waktu satu hari. Pada tanggal 19 November 1919 didirikan CBZ (Centrale Burgelijke Ziekenhuis) yang disatukan dengan STOVIA. Sejak saat itu penyelenggaraan pendidikan dan pelayanan kedokteran semakin maju dan berkembang fasilitas pelayanan kedokteran spesialistik bagi masyarakat luas.

Sekitar waktu yang sama School ter Opleiding van Indische Artsen (STOVIA)= Sekolah Dokter waktu itu) secara bertahap juga dipindah ke Salemba disamping nya Rumahsakit. Memang sejak semula Rumahsakit dan STOVIA direncanakan dibangun di satu lokasi yaitu untuk memudahkan STOVIA mendapatkan penderita yang diperlukannya bagi pendidikan dan sebaliknya memudahkan CBZ mendapatkan tenaga spesialis bagi pelayanan kesehatan kepada masyarakat luas. Kerjasama ini dimudahkan karena Kepala Bagian STOVIA yang tadinya hanya berkewajiban memberi pendidikan juga diberi tanggungjawab merawat penderita ke bangsal.

Fasilitas Ruma hsakit di Salemba jauh lebih lengkap dan sempurna daripada fasilitas yang dimiliki STOVIA sebelumnya

Hal ini memungkinkan STOVIA untuk membuka poliklinik tiap hari yang tadinya hanya dua hari setiap minggu. Failitas Rumahsakit yang memadai inilah kemudian merupakan faktor penting yang memungkinkan STOVIA di tahun 1927 dijadikan Pendidikan Tinggi Kedokteran (Geneeskundige Hoogeschool). Periode sampai pecah perang dunia ke-II ditandai oleh berkembangnya berbagai spesialisasi. Mula-mula jumlah spesialisasi terbatas yaitu Bedah (yang mencakup Obstetri dan Ginekologi), Penyakit Dalam, Saraf, Mata dan Kulit. Kemudian berkembang sebagai spesialisme tersendiri Obstetri dan Ginekologi, Neurologi, Psikiatri, Pediatri dan Radiologi.

Bulan Maret 1942, saat Indonesia diduduki Jepang, CBZ dijadikan rumah sakit perguruan tinggi (Ika Daigaku Byongin). Pendudukan Jepang tidak ditandai oleh perkembangan baru. Nama Rumahsakit diubah menjadi Rumahsakit Perguruan Tinggi dan Geneeskundige Hoogeschool menjadi Ika Dai Gakku. Sewaktu pendudukan Jepang DOKTER MOCHTAR dari Laboratorium Kesehatan Pusat dihukum pancung karena dituduh melakukan subversi dan sabot.

Setelah pada tanggal 17 Agustus 1945 Bangsa Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya maka untuk pertama kalinya pimpinan Rumahsakit berada di bawah Bangsa Indonesia sendiri. Mulai saat itu RSUP (Rumah Sakit Umum Pusat) bersama Perguruan Tinggi Kedokteran mempertahankan diri terhadap Belanda yang berusaha untuk berkuasa kembali. Pada bulan Pebruari tahun 1947 Perguruan Tinggi Kedokteran diduduki dengan kekerasan oleh Belanda. Pada peristiwa itu mahasiswa kedokteran SULUH HANGSONO jatuh sebagai korban.

Pada tahun 1945

CBZ diubah namanya menjadi “Rumah Sakit Oemoem Negeri (RSON), dipimpin oleh Prof Dr Asikin Widjaya-Koesoema dan selanjutnya dipimpin oleh Prof.Tamija. Tahun 1950 RSON berubah nama menjadi Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP). Setelah Belanda mengundurkan diri yaitu setelah “Souvereiniteitserkenning” maka Pimpinan Rumahsakit berbalik kembali ke tangan Bangsa Indonesia. Waktu itu Pimpinan menghadapi tugas yang amat berat yaitu membangun Rumahsakit yang telah mengalami disintegrasi akibat pendudukan Belanda dan Jepang.

Selain daripada itu sebagai konsekwensi daripada kemerdekaan Bangsa Indonesia terjadilah perkembanganperkembangan yang dengan sendirinya menimbulkan masalah sebagai berikut:

(1). Penduduk kota Jakarta meningkat secara luar biasa. Perkembangan penduduk ini disertai oleh meningkatnya pengertian masyarakat mengenai kesehatan. Hal ini menyebabkan bahwa jumlah pengunjung Rumahsakit meningkat sedangkan fasilitas Rumahsakit waktu itu belum sempat diperluas untuk dapat menampung peningkatan ini dengan baik.

(2). Kemajuan ilmu dan teknologi kedokteran serta adanya “rising demands” daripada masyarakat menyebabkan timbulnya berbagai Spesialisasi dan Superspesialisasi yang dengan sendirinya memerlukan tambahan sarana dan personalia.

(3). Jumlah mahasiswa kedokteran yang sangat meningkat yang pendidikan kliniknya harus ditampung di Rumahsakit.

Selain daripada kesulitan-kesulitan tersebut maka terbatasnya keuangan waktu itu sangat

dirasakan sebagai hambatan bagi perkembangan Rumahsakit dan bagi penyelenggaraan pelayanan kesehatan yang memadai.

Pada Tanggal 17 Agustus 1964

Menteri Kesehatan Prof Dr Satrio meresmikan RSUP menjadi Rumah Sakit Tjipto Mangunkusumo (RSTM) yaitu nama seorang Dokter dan seorang Pahlawan Nasional. sejalan dengan perkembangan ejaan baru Bahasa Indonesia, maka diubah menjadi RSCM. Pada tanggal 13 Juni 1994, sesuai SK Menkes nomor 553/Menkes/SK/VI/1994, berubah namanya menjadi RSUP Nasional Dr Cipto Mangunkusumo. Berdasarkan PP nomor 116 Tahun 2000, tanggal 12 Desember 2000,  RSUPN Dr Cipto Mangunkusumo ditetapkan sebagai Perusahaan Jawatan (Perjan) RS Dr Cipto Mangunkusumo Jakarta. Dalam perkembangan selanjutnya, Perjan RSCM berubah menjadi Badan Layanan Umum berdasarkan PP.Nomor 23 tahun 2005.

Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2005 Badan Layanan Umum yang selanjutnya disebut BLU adalah instansi pemerintah di lingkungan Pemerintah yang dibentuk untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat berupa penyediaan barang dan atau jasa yang dijual tanpa mengutamakan mencari keuntungan dan dalam melakukan (BLU) bertujuan untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat dalam rangka memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa dengan memberikan fleksibilitas dalam pengelolaan keuangan berdasarkan prinsip ekonomi dan produktivitas dan penerapan praktek bisnis yang sehat.

Praktek bisnis yang sehat adalah penyelenggaraan fungsi organisasi berdasarkan kaidah-kaidah menajemen yang baik dalam rangka pemberian layanan yang bermutu dan berkesinambungan. kegiatannya didasarkan pada prinsip efisiensi dan produktivitas. Badan Layanan Umum BLU) bertujuan untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat dalam rangka memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa dengan memberikan fleksibilitas dalam pengelolaan keuangan berdasarkan prinsip ekonomi dan produktivitas dan penerapan praktek bisnis yang sehat. Praktek bisnis yang sehat adalah penyelenggaraan fungsi organisasi berdasarkan kaidah-kaidah menajemen yang baik dalam rangka pemberian layanan yang bermutu dan berkesinambungan.

Baca juga artikel: