Pendidikan

Teori Hume Tentang Pengalaman dan Kausalitas (Sebab-Akibat)

Teori Hume Tentang Pengalaman dan Kausalitas (Sebab-Akibat)

Teori Hume tentang pengalaman dimulai dengan ide bahwa semua isi pengalaman sadar kita dapat dipecah menjadi dua kategori yakni kesan dan ide. Hume mengatakan bahwa istilah kesan (impression) menunjuk kepada semua persepsi kita yang lebih hidup ketika mendengar, melihat, merasa, mencinta, membenci, menginginkan atau menghendaki. Kesan berbeda dari ide, bukan di dalam isi tetapi di dalam kekuatan dan semangat, yang dengannya keduanya menyentuh kita. Di sisi lain, ide adalah gambar yang didasarkan pada memori kesan atau pikiran tentang kesan, yang terakhir ini sering melibatkan kemampuan imajinasi kita yang memberi produk ide, yang mungkin kita memiliki kaitan langsung di dalam wilayah kesan. Meskipun demikian, semua ide dasarnya berasal dari kesan.

Hume menguraikan dan menjelaskan hubungan antara kesan dan ide dengan menyatakan bahwa keduanya dipandang dari segi simplisitas atau kompleksitasnya, dapat dibagi menjadi dua kategori. Sebuah kesan yang kompleks tersusun atas kesan-kesan yang simpel. Selain itu, setiap ide yang simple berasal dari kesan tunggal yang berhubungan secara langsung. Di sisi lain, sebuah ide kompleks tidak perlu berasal dari sebuah kesan kompleks. Sebaliknya, ide-ide kompleks dapat dikembangkan dari variasi kesan simpel atau kompleks, atau ide-ide kompleks itu dapat disusun dari ide-ide simple. Dalam penyelidikan Hume, ternyata banyak ide yang kompleks yang tidak memiliki kesan yang berhubungan dengan ide itu. Banyak pula kesan yang kompleks yang tidak direkam dalam ide kita. kita tidak dapat menggambarkan suatu kota yang belum pernah saya lihat. Akan tetapi saya pernah melihat kota Paris, namun kita harus mengatakan kita tidak sanggup membentuk ide tentang kota Paris yang lengkap dengan gedung-gedung, jalan dan lain-lain lengkap dengan ukuran masing-masing. Untuk mengetahui apakah sesuatu yang kita sangka pengetahuan adalah benar-benar pengetahuan, kita harus mengurai ide yang kompleks menjadi ide-ide yang sederhana dan kemudian menemukan kesan yang merupakan basis ide tersebut. Bila kita mengatakan kita melihat sebuah “apel”, kita menganalisis pengalaman kita. Ide kita adalah ada sebuah apel ditentukan oleh penglihatan kita pada warna merah, bentuk bulat, rasa apel, dan seterusnya.

Selanjutnya, Hume sangat tertarik pada relasi sebab dan akibat karena semua pertimbangan yang berkenaan dengan masalah fakta tampak didasarkan pada relasi sebab dan akibat.

Hume menegaskan bahwa pengalaman lebih memberi keyakinan dibanding kesimpulan logika atau kemestian sebab-akibat. Sebab akibat hanya hubungan yang saling berurutan saja dan secara konstan terjadi seperti, api membuat api mendidih. Padahal dalam api tidak dapat diamati adanya daya aktif yang mendidihkan air.

Menurut Hume, pengalamanlah yang memberi informasi yang langsung dan pasti terhadap objek yang diamati sesuai waktu dan tempat. Roti yang telah saya makan, kata Hume, mengenyangkan saya, artinya bahwa tubuh dengan bahan ini dan pada waktu itu memiliki rahasia kekuatan untuk mengenyangkan. Namun, roti tersebut belum tentu bisa menjadi jaminan yang pasti pada waktu yang akan datang karena roti itu unsurnya telah berubah karena tercemar dan kena polusi dan situasipun tidak sama lagi dengan makan roti yang pertama. Jadi, pengalaman adalah sumber informasi bahwa roti itu mengenyangkan, untuk selanjutnya hanya kemungkinan belaka bukan kepastian.

baca juga :

https://solopellico3p.com/beli-mobil-bekas/